bagai secangkir kopi demikianlah seuntai puisi serupa meracik kopi begitulah melahirkan puisi
tak mungkin kopi sesuai angan jika takaran kurang atau berlebihan tak mungkin pas kekentalan jika air tuangan belum dididihkan
tak mungkin puisi mengantar kebaikan bila hatimu tak menyelami kelam tak mungkin puisi menyentuh perasaan bila kalimatmu tak menguak kenyataan
tuanglah yang asli bubuk kopinya aduklah merata tak dibubuh gula rangkaikan kata seimbang rima lenturkan alur segaris nada
: tentu terasa pahit kopinya tapi pastilah menyehatkan mungkin puisi pedih yang tercipta tapi menyampaikan peradaban
Sawangan, akhir Juli 2010 Catatan: Puisi ini diilhami obrolan melalui pesan pendek dengan Penyair Acep Zamzam Noor, mengenai bagaimana meracik kopi.
Ingin Ketemu
kapan kau terbang rendah lagi,elang? di sini di ladang tak bermentari gemerisik hati cuma sepi
sekejap dan tiba-tiba kau pernah singgah entah hasrat entah rasa menggiringmu menjejak tapi bara kadung menebar merebak berubah bunga memekar tak putus musimnya
kusadar kepakmu tinggi sedang suaraku gemetar mencecah langit tapi angin setia semilirkan janji kuelus sayapmu kapan meletih
dan kembali berpanen kita memetik bara yang berserakan seluas-luas raga selepas-lepas bahagia
melayang meski tanpa sayap melesat meski dalam gelap
ah, elang selembar bulu sayapmu tertinggal di sini semakin menggelitik ingin ketemu lagi
Depok,Mei 2010
-----
Anak yang Tersisih
langit cerah dan burung bernyanyi tak mampu melipur hatimu yang sedih hanya mendekap beruang teddy kau tahu tak akan ada teman menemani
kemarin teman-teman menghina namamu, hari ini juga kemarin dulu malah menghardikmu, esok begitu pula
di sini di negeri yang kakekmu turut membebaskannya di sini di bawah langit yang menaungi makhluk beraneka entah mengapa perlakuan padamu selalu berbeda entah mengapa keyakinan malah membuatmu tak setara
kemarin teman-teman mencela warnamu, hari ini juga kemarin dulu malah menggertakmu, lusa demikian pula
di sini di negeri yang dianugerahkan Sang Cinta di sini di bawah langit yang mengatapi seluruh manusia entah mengapa kepatuhan padaNya justru membuat buta entah mengapa selalu harus ada kami dan mereka
langit cerah dan burung bernyanyi tak bisa menghibur jiwamu yang pedih semakin memeluk beruang teddy kau tahu tak akan ada teman mengerti
Sawangan, Agustus 2010
-----
Sajak Korban PHK
matahari muncul di langit timur engkau termangu belum juga tidur semalaman menjalin kegundahan semalaman merangkai kegusaran
oh, anak-anak menagih uang sekolah oh, utang di warung makin bertambah tagihan listrik belum terbayar teman dan kerabat tak ada kabar
matahari menerangi semesta benakmu tak jua usai berkelana kepedihan mana yang lebih maha dibandingkan seorang yang putus asa
oh, anak-anak kini kecewa kau bukan ayah yang mereka bangga oh, istrimu yang dulu begitu memuja semakin kerap membuatmu terhina
matahari jatuh ke langit barat beban di jiwa semakin berat tubuhmu kini bagai sekarat hasrat pun merapuh karena berkarat
Sawangan, Agustus 2010 Keterangan: PHK singkatan Pemutusan Hubungan Kerja

Tidak ada komentar:
Posting Komentar