Sabtu, 16 November 2013

Imelda Hasibuan

Puisi Adalah Kopi

bagai secangkir kopi demikianlah seuntai puisi serupa meracik kopi begitulah melahirkan puisi

tak mungkin kopi sesuai angan jika takaran kurang atau berlebihan tak mungkin pas kekentalan jika air tuangan belum dididihkan

tak mungkin puisi mengantar kebaikan bila hatimu tak menyelami kelam tak mungkin puisi menyentuh perasaan bila kalimatmu tak menguak kenyataan

tuanglah yang asli bubuk kopinya aduklah merata tak dibubuh gula rangkaikan kata seimbang rima lenturkan alur segaris nada

: tentu terasa pahit kopinya tapi pastilah menyehatkan mungkin puisi pedih yang tercipta tapi menyampaikan peradaban

Sawangan, akhir Juli 2010 Catatan: Puisi ini diilhami obrolan melalui pesan pendek dengan Penyair Acep Zamzam Noor, mengenai bagaimana meracik kopi.

Ingin Ketemu

kapan kau terbang rendah lagi,elang? di sini di ladang tak bermentari gemerisik hati cuma sepi

sekejap dan tiba-tiba kau pernah singgah entah hasrat entah rasa menggiringmu menjejak tapi bara kadung menebar merebak berubah bunga memekar tak putus musimnya

kusadar kepakmu tinggi sedang suaraku gemetar mencecah langit tapi angin setia semilirkan janji kuelus sayapmu kapan meletih

dan kembali berpanen kita memetik bara yang berserakan seluas-luas raga selepas-lepas bahagia

melayang meski tanpa sayap melesat meski dalam gelap

ah, elang selembar bulu sayapmu tertinggal di sini semakin menggelitik ingin ketemu lagi

Depok,Mei 2010

-----

Anak yang Tersisih

langit cerah dan burung bernyanyi tak mampu melipur hatimu yang sedih hanya mendekap beruang teddy kau tahu tak akan ada teman menemani

kemarin teman-teman menghina namamu, hari ini juga kemarin dulu malah menghardikmu, esok begitu pula

di sini di negeri yang kakekmu turut membebaskannya di sini di bawah langit yang menaungi makhluk beraneka entah mengapa perlakuan padamu selalu berbeda entah mengapa keyakinan malah membuatmu tak setara

kemarin teman-teman mencela warnamu, hari ini juga kemarin dulu malah menggertakmu, lusa demikian pula

di sini di negeri yang dianugerahkan Sang Cinta di sini di bawah langit yang mengatapi seluruh manusia entah mengapa kepatuhan padaNya justru membuat buta entah mengapa selalu harus ada kami dan mereka

langit cerah dan burung bernyanyi tak bisa menghibur jiwamu yang pedih semakin memeluk beruang teddy kau tahu tak akan ada teman mengerti

Sawangan, Agustus 2010

-----

Sajak Korban PHK

matahari muncul di langit timur engkau termangu belum juga tidur semalaman menjalin kegundahan semalaman merangkai kegusaran

oh, anak-anak menagih uang sekolah oh, utang di warung makin bertambah tagihan listrik belum terbayar teman dan kerabat tak ada kabar

matahari menerangi semesta benakmu tak jua usai berkelana kepedihan mana yang lebih maha dibandingkan seorang yang putus asa

oh, anak-anak kini kecewa kau bukan ayah yang mereka bangga oh, istrimu yang dulu begitu memuja semakin kerap membuatmu terhina

matahari jatuh ke langit barat beban di jiwa semakin berat tubuhmu kini bagai sekarat hasrat pun merapuh karena berkarat

Sawangan, Agustus 2010 Keterangan: PHK singkatan Pemutusan Hubungan Kerja

Imelda Hasibuan
Imelda Hasibuan lahir di Medan, 20 Agustus. Menempuh Pendidikan Bahasa Inggris D3 Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara USU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar